Sunday, March 7, 2010

Azab Bagi Wanita





assalamualaikum buat ikhwah dan akhowat, kaum muslimin dan muslimat, renungan khususnya
untuk akhowat dan diri ana sendiri.

Sayidina Ali r.a menceritakan, suatu ketika beliau melihat Rasulullah s.a.w menangis, manakala beliau datang bersama Fatimah. Lalu keduanya bertanya mengapa Rasulullah menangis?

Baginda menjawab, "Pada malam aku di-isra'- kan, aku melihat perempuan-perempuan yang sedang disiksa dengan berbagai siksaan. Itulah sebabnya mengapa aku menangis. Kerana, menyaksikan mereka yang sangat berat dan mengerikan siksanya.

Puteri Rasulullah kemudian menanyakan apa yang dilihat ayahandanya. "Aku lihat ada perempuan digantung rambutnya, otaknya mendidih.

Aku lihat perempuan digantung lidahnya, tangannya diikat ke belakang dan timah cair dituangkan ke dalam tengkoraknya.

Aku lihat perempuan tergantang kedua kakinya dengan terikat tangannya sampai ke ubun-ubunnya, diulurkan ular dan kalajengking.

Dan aku lihat perempuan yang memakan badannya sendiri, di bawahnya dinyalakan api neraka. Serta aku lihat perempuan yang bermuka hitam, memakan tali perutnya sendiri.


Aku lihat perempuan yang telinganya pekak dan matanya buta, dimasukkan ke dalam peti yang dibuat dari api neraka, otaknya keluar dari lubang hidung, badannya berbau busuk karena penyakit sopak dan kusta.

Aku lihat perempuan yang badannya seperti himar, beribu-ribu kesengsaraan dihadapinya. Aku lihat perempuan yang rupanya seperti anjing, sedangkan api masuk melalui mulut dan keluar dari duburnya sementara malaikat memukulnya dengan pentung dari api neraka,"kata Nabi.

Fatimah Az-Zahra kemudian menanyakan mengapa mereka disiksa seperti itu?
Rasulullah s.a.w menjawab, "Wahai puteriku, adapun mereka yang tergantung rambutnya hingga otaknya mendidih adalah wanita yang tidak menutup rambutnya sehingga terlihat oleh laki-laki yang bukan muhrimnya.

Perempuan yang digantung susunya adalah isteri yang 'mengotori' tempat tidurnya.

Perempuan yang tergantung kedua kakinya ialah perempuan yang tidak taat kepada suaminya, ia keluar rumah tanpa izin suaminya, dan perempuan yang tidak mau mandi suci dari haid dan nifas.


Perempuan yang memakan badannya sendiri ialah kerana ia berhias untuk lelaki yang bukan muhrimnya dan suka mengumpat orang lain.

Perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting api neraka kerana ia memperkenalkan dirinya kepada orang yang bersolek dan berhias supaya kecantikannya dilihat laki-laki yang bukan muhrimnya.

Perempuan yang diikat kedua kaki dan tangannya ke atas ubun-ubunnya diulurkan ular dan kalajengking padanya kerana ia bisa shalat tapi tidak mengamalkannya dan tidak mau mandi junub.

Perempuan yang kepalanya seperti babi dan badannya seperti himar ialah tukang umpat dan pendusta. Perempuan yang menyerupai anjing ialah perempuan yang suka memfitnah dan membenci suami."

Mendengar itu, Sayidina Ali dan Fatimah Az-Zahra pun turut menangis.

Dan inilah peringatan kepada kaum akhowat. semoga kita bukanlah dari kalangan seperti di atas ini.. insyaAllah, ameen.


Thursday, January 7, 2010

wanita & keluarga bahagia





Oleh: Syaikh Sholih Bin Al Fauzan Al Fauzan hafizhohullaah


Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Dan Maha Penyayang.

Sesungguhnya segala puji hanya bagi Allah. Kita memuji-Nya, meminta pertolongan dan memohon ampunan kepada-Nya. Dan kita berlindung kepada Allah dari keburukan diri kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Siapa yang Allah beri hidayah, maka tiada yang dapat menyesatkannya. Dan siapa yang Allah sesatkan, maka tiada yang dapat memberinya hidayah. Dan aku bersaksi bahwa tiada sembahan yang haq melainkan Allah semata. Tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, semoga Allah mencurahkan sholawat dan salam kepadanya, dan kepada keluarganya, serta para sahabatnya.



Wa ba’du,




Pembicaraan kita berkaitan dengan wanita muslimah. Dan berbicara tentang wanita muslimah di waktu sekarang ini aku pandang cukup penting. Karena wanita di masyarakat kita sedang diserang secara membabi buta oleh musuh-musuh agama ini, di mana digulirkan apa yang disebut dengan “qodhiyyatu l mar`ah” atau “qodhooyaa l mar`ah” (problematika wanita -pent). Dan yang mereka maksud dengan istilah ini adalah mengeluarkan wanita dari kondisi/keadaan yang diinginkan oleh Allah terhadapnya.




Kita tidak pernah mengenal bahwa wanita memiliki problematika selain problematika umat wanita muslimah itu sendiri. Sesungguhnya kebodohan umat terhadap agama Islam ini dan kelemahan mereka dalam berpegang kepadanya adalah problematika umat dan wanita muslimah. Dan itulah yang akan kami upayakan untuk kami jelaskan dalam kuliah umum yang berjudul “peran wanita dan membina keluarga” ini. Namun kami memiliki beberapa komentar atas judul ini.






Pertama, seputar pengertian “tarbiyah”. Di mana yang kami maksud dengannya adalah makna luas dari pengertian “membina” dan segala sesuatu yang menjadi konsekwensinya seperti mengawasi keluarga dan menjaganya. Sehingga jangan sampai ada yang mengira bahwa tarbiyah itu hanya sekedar memperbaiki dan meluruskan akhlak. Ini adalah salah satu cakupan tarbiyah. Sedang tarbiyah untuk keluarga lebih luas lagi sisinya dari hal ini.



Kedua, boleh jadi dari judul ini akan dipahami bahwa wanita memiliki peran dalam membina keluarga akan tetapi peran itu adalah pekerjaan yang sekunder baginya. Padahal yang sebenarnya adalah bahwa pekerjaan wanita dalam membina keluarga itu adalah pekerjaannya yang paling utama sedang yang selainnya adalah pengecualian. Kalau judul kuliah umum ini adalah “peran wanita adalah membina keluarga”, maka itu lebih baik.




Tempat Wanita

Permasalahan ini membutuhkan penjelasan dan penerangan, maka kami katakan: sesungguhnya tempat yang wajar bagi wanita adalah di rumah dan di sanalah tempatnya bekerja. Ini adalah prinsip dasarnya. Dan inilah yang disokong oleh dalil-dalil syar’iy serta inilah logika fitrah yang dengannya wanita diciptakan.

Berkaitan dengan dalil-dalil syar’iy atas hal ini, maka nash-nash dan realitas-realitas konkret yang mendukungnya cukup banyak. Di antaranya:

1. Allah berfirman dengan mengarahkan perkataan kepada para ummahaatul mu`miniin:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ

“Dan menetaplah di rumah-rumah kalian” (Al Ahzab: 33).

Berkata Sayyid Quthb: “Dalam ayat ini terdapat isyarat halus bahwa hendaknya rumah itu menjadi tempat asal dalam kehidupan mereka. Dan rumah itu adalah sebagai “maqorrun” (tempat kediaman -pent). Sedang selain rumah adalah pengecualian sementara yang mereka tidak boleh menetap dan berdiam di situ kecuali untuk keperluan dan itupun hanya sekedarnya saja. (fii zhilaali l qur`aan 59, 5/28 cetakan kesepuluh, Asy Syuruq).







2.

لَا تُخْرِجُوهُنَّ مِن بُيُوتِهِنَّ وَلَا يَخْرُجْنَ

“Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar’ (Ath Tholaaq: 1)

Ayat ini sekalipun berkaitan dengan wanita yang sedang menjalani masa iddah, namun para ulama mengatakan bahwa hukumnya tidak terkhususkan untuknya akan tetapi juga mencakup wanita yang lain. Penisbahan dalam “rumah kalian” atau “rumah mereka” (dalam dua ayat di atas -pent) padahal rumah itu biasanya adalah milik suami, itu adalah penisbahan yang menunjukkan penempatan, bukan pemilikan. Seolah, pada prinsipnya, rumah itu adalah tempat tinggal bagi wanita.





3. Dalam kisah-kisah para nabi ada pelajaran dan ibroh. Seperti kisah Musa dengan dua orang wanita:

وَلَمَّا وَرَدَ مَاء مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِّنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِن دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاء وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ

Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat at begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”. (Q.S.28:23)
Hingga firman Allah:

قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَى أَن تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْراً فَمِنْ عِندِكَ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ

Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”. (Q.S.28:27)

Mari kita perhatikan pelajaran-pelajaran dalam ayat ini.

Musa mendapatkan para penggembala berada di sumber air dan di belakang mereka ada dua orang wanita yang menghalang-halangi kambing mereka agar tidak bercampur baur dengan kambing orang banyak itu. Musa bertanya kepada dua orang wanita itu, ada apa dengan kalian? Mengapa kalian tidak memberi minum kambing kalian bersama orang-orang itu?
Datanglah jawabannya: kami tidak dapat memberi minum sampai para penggembala itu memulangkan ternak mereka. Dua orang wanita ini memiliki ketakwaan dan sikap waro’ yang mencegah mereka untuk bercampur baur dengan para lelaki. Kemudian seolah ada pertanyaan lain muncul, apa yang menyebabkan kalian keluar? Lalu muncullah jawabannya secara langsung: dan ayah kami adalah orang tua yang sudah lanjut umurnya. Ada kebutuhan dan keperluan mendesak yang mengharuskan mereka untuk keluar. Dan walaupun mereka terpaksa untuk keluar, mereka tetap menjaga akhlak dan adab dengan tidak berbaur bersama para lelaki.

Kemudian ada pelajaran lain di mana salah seorang dari dua wanita itu berpikir bahwa sudah saatnya segala sesuatunya kembali pada keadaan semula (yaitu mereka tidak lagi keluar rumah untuk memberi minum ternak -pent).

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ

Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.

Syu’aib pun menerima solusi tersebut dan ia mengajukan tawaran kepada Musa:

قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَى أَن تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ

Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun..” (Q.S.28:27)

Musa pun menerima tawaran tersebut dan segala sesuatunya pun kembali wajar. Musa bekerja menggembalakan ternak, dan wanita itu pun menjadi seorang istri yang bekerja di rumah. Demikianlah Al Quran berkisah kepada kita dan sungguh dalam kisah-kisah mereka itu ada pelajaran berharga.




4. Sholat di masjid itu adalah amalan yang masyru’ bagi kaum lelaki dan merupakan salah satu amalan yang paling utama.Terlebih lagi sholat di masjid Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam, dan bersama beliau. Meskipun demikian, Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam memerintahkan para wanita untuk sholat di rumah. Dari istri Abi Humaid As Saa’idiy, bahwasanya ia datang kepada Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam dan berkata: “Sesungguhnya aku suka sholat bersamamu”. Lalu beliau berkata: “Aku tahu bahwa engkau menyukai sholat bersamaku, akan tetapi sholatmu di sudut ruangan itu lebih baik daripada sholatmu di kamar. Dan sholatmu di kamar itu lebih baik daripada sholatmu di dalam rumah. Dan sholatmu di dalam rumah itu lebih baik dari sholatmu di masjid kaummu. Dan sholatmu di masjid kaummu itu lebih baik daripada sholatmu di masjidku”. Lalu istri Abi Humaid ini pun menyuruh dibuatkan untuknya sebuah tempat sholat di tempat paling dalam dan gelap di rumahnya. Dan ia pun sholat di situ sampai akhir hayatnya. (Hadis ini dikeluarkan oleh Ahmad 6/371 dan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya 3/95. Hadis ini hasan. Lihat “haasyiyatu l a’zhomi ‘alaa shohiih ibni khuzaimah).





Selengkapnya:
http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/muslimah/peran-wanita-dalam-membina-keluarga-bag-1/





Tuesday, December 29, 2009

segalanya padaMU





I feel your presence in the fresh breath in the early morning

In the smell of roses in the fertile nature


In the fruits of beautiful trees


In the white and pure snow over the mountains


In the four seasons of good giving


In the green fields which spreads infinitely


In the song of birds calling me to wake up for a new day


In the reflect of blue sky over the seas


In the mountains, hills, lakes, rivers and forests


You are everywhere we turn and every where we look


Your presence is here in all aspects of life


You are the One, the Merciful and the Great


You are our shadow in the heat


Our shelter in the rain and our sight in the darkness


How we can be lost when You are our Guide ?


How we can be in despair when You are our Hope ?


How we can be alone when you are our Companion ?


How we can be in need when You are our Answerer ?



(La Tahzan, Tariq Ahmed Alhlayel, December 27 2009)

Tuesday, December 1, 2009

terpisahnya roh dari jasad





assalamualaikum..

Dalam sebuah hadith daripada Aisyah r.a katanya, "Aku sedang duduk bersila di dalam rumah. Tiba-tiba Rasulullah S.A.W datang dan masuk sambil memberi salam kepadaku. Aku segera bangun kerana menghormati dan memuliakannya sebagaimana kebiasaanku di waktu baginda masuk ke dalam rumah. Nabi S.A.W bersabda, "Duduklah di tempat duduk, tidak usahlah berdiri wahai Ummul Mukminin."



Maka Rasulullah S.A.W duduk sambil meletakkan kepalanya di pangkuanku, lalu baginda berbaring dan tertidur.


Maka aku hilangkan uban pada janggutnya, dan aku dapat 19 rambut yang sudah putih. Maka terfikirlah dalam hatiku dan aku berkata, "Sesungguhnya baginda akan meninggalkan dunia ini sebelum aku sehingga tetaplah satu umat yang ditinggalkan olehnya nabinya." Maka aku menangis sehingga mengalir air mataku jatuh menitis pada wajah baginda.




Baginda terbangun dari tidurnya seraya bertanya, "Apakah sebabnya sehingga engkau menangis wahai Ummul Mukminin?" Masa aku ceritakan kisah tadi kepadanya, lalu Rasulullah S.A.W bertanya, "Keadaan bagaimanakah yang hebat bagi mayat?" Kataku, "Tunjukkan wahai Rasulullah!"


Rasulullah S.A.W berkata, "Engkaulah katakan!," Jawab Aisyah r.a : "Tidak ada keadaan lebih hebat bagi mayat ketika keluarnya mayat dari rumahnya di mana anak-anaknya sama-sama bersedih hati di belakangnya. Mereka sama-sama berkata, "Aduhai ayah, aduhai ibu! Ayahnya pula mengatakan: "Aduhai anak!"


Rasulullah S.A.W bertanya lagi: "Itu juga termasuk hebat. Maka, manakah lagi yang lebih hebat daripada itu?" Jawab Aisyah r.a : "Tidak ada hal yang lebih hebat daripada mayat ketika ia diletakkan ke dalam liang lahad dan ditimbuni tanah ke atasnya. Kaum kerabat semuanya kembali. Begitu pula dengan anak-anak dan para kekasihnya semuanya kembali, mereka menyerahkan kepada Allah berserta dengan segala amal perbuatannya." Rasulullah S.A.W bertanya lagi, "Adakah lagi yang lebih hebat daripada itu?" Jawab Aisyah, "Hanya Allah dan Rasul-Nya sahaja yang lebih tahu."


Maka bersabda Rasulullah S.A.W : "Wahai Aisyah, sesungguhnya sehebat-hebat keadaan mayat ialah ketika orang yang memandikan masuk ke rumahnya untuk memandikannya. Maka keluarlah cincin di masa remaja dari jari-jarinya dan ia melepaskan pakaian pengantin dari badannya. Bagi para pemimpin dan fuqaha, sama melepaskan serban dari kepalanya untuk dimandikan.


Di kala itu rohnya memanggil, ketika ia melihat mayat dalam keadaan telanjang dengan suara yang seluruh makhluk mendengar kecuali jin dan manusia yang tidak mendengar. Maka berkata roh, "Wahai orang yang memandikan, aku minta kepadamu kerana Allah, lepaskanlah pakaianku dengan perlahan-lahan sebab di saat ini aku berehat dari kesakitan sakaratul maut."


Dan apabila air disiram maka akan berkata mayat, "Wahai orang yang memandikan akan roh Allah, janganlah engkau menyiram air dalam keadaan yang panas dan janganlah pula dalam keadaan sejuk kerana tubuhku terbakar dari sebab lepasnya roh," Dan jika merea memandikan, maka berkata roh: "Demi Allah, wahai orang yang memandikan, janganlah engkau gosok tubuhku dengan kuat sebab tubuhku luka-luka dengan keluarnya roh."


Apabila telah selesai dari dimandikan dan diletakkan pada kafan serta tempat kedua telapaknya sudah diikat, maka mayat memanggil, "Wahai orang yang memandikanku, janganlah engkau kuat-kuatkan dalam mengafani kepalaku sehingga aku dapat melihat wajah anak-anakku dan kaum keluargaku sebab ini adalah penglihatan terakhirku pada mereka. Adapun pada hari ini aku dipisahkan dari mereka dan aku tidakakan dapat berjumpa lagi sehingga hari kiamat."


Apabila mayat dikeluarkan dari rumah, maka mayat akan menyeru, "Demi Allah, wahai jemaahku, aku telah meninggalkan isteriku menjadi janda, maka janganlah kamu menyakitinya. Anak-anakku telah menjadi yatim, janganlah menyakiti mereka. Sesungguhnya pada hari ini aku akan dikeluarkan dari rumahku dan meninggalkan segala yang kucintai dan aku tidak lagi akan kembali untuk selama-lamanya."


Apabila mayat diletakkan ke dalam keranda, maka berkata lagi mayat, "Demi Allah, wahai jemaahku, janganlah kamu percepatkan aku sehingga aku mendengar suara ahliku, anak-anakku dan kaum keluargaku. Sesungguhnya hari ini ialah hari perpisahanku dengan mereka sehingga hari kiamat."



Saturday, November 28, 2009

kiamat kecil 5




assalamualaikum..

Kematian adalah suatu peristiwa yang pasti di lalui orang setiap individu manusia. Apabila seseorang meninggal dunia, roh mereka akan keluar daripada jasadnya. Bagi orang-orang yang beriman, mereka akan menghadapi sakaratul maut dengan tenang dan mudah, dan sebaliknya bagi orang-orang yang tidak beriman. Seterusnya roh mereka yang beriman akan berbau harum dan wangi, manakala yang tidak beriman pula, roh mereka berbau busuk.




Sebagaimana hadis Rasulullah s.a.w yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a yang menjelaskan keadaan roh orang-orang mukmin dan orang-orang kafir. Baginda s.a.w menjelaskan bahawa seorang mukmin yang menghadapi sakaratulmaut akan datang kepada malaikat yang membawa sehelai kain sutera putih lalu berkata : Keluarlah, wahai roh yang bersih di dalam keadaan redha lagi diredhai kepada kegembiraan dan kepuasan dan Tuhan yang tidak murka.Maka roh itu akan keluar berbau wangi, lebih wangi daripada bau-bauan misk sehingga dia akan menyentuh setengah mereka kepada setengah yang lain, hinggalah dia dibawanya ke pintu langit. Para malaikat sekalian akan mengatakan : Alangkah wanginya bau-bauan yang datang dari bumi ini! Kemudian roh tersebut terus dibawakan kepada roh-roh kaum Mukminin. Manakala bagi roh orang kafir pula, apabila dia menghadapi sakaratulmaut akan datang kepadanya malaikat siksa dengan membawa kain guni yang kasar, lalu berkata : Keluarklah, wahai roh yang jahat di dalam keadaan dimurkai, dan pergilah kepada siksa Allah. Maka roh itu akan keluar berbau busuk seperti bau bangkai, sehinggalah di bawakan ke pintu bumi. Maka para malaikat berkata : Alangkah busuknya bau roh ini. Kemudian roh yang jahat tadi akan dibawa kepada roh-roh kaum kafir. (Hadis ini dari riwayat An-Nasa’i, Al-Bazzaar dan Muslim secara ringkas sahaja).


Maksud hadis ini jelas menunjukkan perbezaan yang amat ketara di antara roh-roh orang yang beriman dan roh-roh orang kafir. Namun, apakah sebenarnya yang dimaksudkan sebagai “roh” itu? Ramai individu mengetahui bahawa apabila seseorang manusia meninggal dunia, rohnya akan keluar dari jasad. Tetapi, apakah sebenarnya roh itu? Sesungguhnya Allah S.W.T yang lebih mengetahui hakikat sebenar kejadian roh itu. Sebagaimana firmanNya dalam surah Al-Isra’;

Maksudnya:“Mereka bertanya kepada engkau tentang roh! Katakanlah (wahai Muhammad!) bahawa roh itu adalah dari urusan Tuhanku dan kamu tiada di berikan pengetahuan mengenainya melainkan sedikit sekali” (Surah Al-Isra’ : 85)


Ayat ini jelas memberitahu umat manusia bahawa ilmu pengetahuan mengenai roh adalah terbatas bagi akal fikiran manusia. Kita sebagai umat Islam hendaklah mempercayai kejadian roh yang diciptakan yang akan terpisah dari jasad kita apabila tiba masanya nanti iaitu kematian. Kita wajib mempercayai bahawa roh akan menghadapi alam Barzakh dan alam akhirat yang lain seperti padang Mahsyar, titian sirat, serta syurga dan neraka. Alam Barzakh merupakan tempat persinggahan bagi setiap roh. Dalam erti kata lain, alam Barzakh merupakan satu dinding pemisah di antara dua alam (alam dunia dan akhirat) yang merupakan tempat tinggal bagi setiap roh sebelum tiba Hari Kebangkitan atau Hari Kiamat. Asal maksud Barzakh di dalam bahasa Arab ialah segala sesuatu yang memisahkan di antara dua perkara.


Roh-roh para mukminin akan berada di alam Barzakh yang luas dan penuh ketenangan dan kenikmatan. Sedangkan roh-roh orang kafir pula berada di alam Barzakh yang sempit, yang di dalamnya penuh dengan pelbagai kesulitan dan kesengsaraan. Firman Allah S.W.T yang menyebut mengenai kewujudan alam Barzakh juga jelas terdapat di dalam Al-Quranul Karim antaranya :

Maksudnya:
“Dan di hadapan mereka terdapat alam Barzakh, iaitu dinding yang membatasi hingga ke hari mereka dibangkitkan semula (pada hari kiamat).” (Surah Al-Mukminun : 100)


Selain itu, setiap roh yang beriman terutamanya para syuhada akan beroleh kebahagiaan di alam akhirat iaitu balasan syurga yang penuh kenikmatan yang telah disediakan oleh Allah Taa’la. Ini adalah ganjaran yang dijanjikan Allah setimpal dengan apa yang dilakukan sepanjang hidup di dunia antaranya bersifat taqwa kepada Allah dan amal soleh. Manakala, keadaan sebaliknya bagi roh orang kafir. Mereka akan beroleh azab siksa di dalam neraka Allah S.W.T, diatas kekufuran dan kemaksiat yang dilakukan semasa menjalani kehidupan semasa di dunia dahulu.
Roh merupakan suatu perkara yang sukar untuk difahami di kalangan umat manusia, lebih-lebih lagi persoalan mengenai roh orang yang sudah meninggal dunia dengan roh orang yang masih hidup. Adakah roh orang yang hidup boleh bertemu dengan roh orang yang mati, atau sebaliknya? Dalil-dalil kepada persoalan ini amat banyak sekali terutamanya di dalam Al-Quran. Selain itu, perkara ini dapat dibuktikan melalui peristiwa-peristiwa tertentu seperti mimpi. Sebagai contoh, orang yang hidup kerap melihat orang yang mati di dalam tidurnya, lalu dia bertanyakan soalan kepadanya, maka orang mati itu memberitahu berbagai-bagai berita yang tidak diketahui oleh orang yang hidup tadi. Misalnya di dalam kisah Abdullah bin Umar bin Abdul Aziz berbicara dengan ayahnya yang sudah mati di dalam mimpinya. Beliau berkata : “Aku telah bermimpikan ayahku sesudah kematiannya, seolah-olah dia sedang berada di sebuah taman. Kemudian dia menghulurkan kepadaku beberapa biji buah epal. Maka aku takwilkan dengan mendapat seorang anak. Aku pun bertanya kepadanya : Amalan yang mana lebih utama? Jawabnya : Mohon pengampunan, wahai anakku!”


Firman Allah dalam Surah Az-Zuma:
"Allah (yang Menguasai segala-galanya), ia mengambil dan memisahkan satu-satu jiwa dari badannya, jiwa orang yang sampai ajalnya semasa matinya, dan jiwa orang yang tidak mati: Dalam masa tidurnya; kemudian ia menahan jiwa orang yang ia tetapkan matinya dan melepaskan balik jiwa yang lain (ke badannya) sehingga sampai ajalnya yang ditentukan. Sesungguhnya yang demikian itu mengandungi tanda-tanda yang membuktikan kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir (untuk memahaminya).(Surah Az-Zumar : 42)


Terdapat dua pendapat mengenai tafsiran ayat di atas. Pendapat yang pertama menyatakan bahawa “roh yang ditahan” itu ialah roh orang yang mati apabila tiba ajalnya, dan “roh yang dilepaskan” pula ialah roh orang mati di dalam tidur. Tidur juga merupakan kiamat kecil bagi setiap manusia selain kematian. Maksudnya, jiwa si mati itu ditahan dan tidak dilepaskan kembali kepada jasadnya sebelum tiba Hari Kiamat. Manakala orang tidur pula turut merasa “kematian” ( keluar rohnya ketika tidur) tetapi kemudian Allah melepaskan jiwanya kembali kepada jasadnya kerana belum tiba waktu ajalnya lagi, kemudian barulah dimatikan sekali lagi dengan kematian yang sebenar.


Pendapat yang kedua pula, menafsirkan bahawa kedua-dua roh yang mati dan yang hidup dimatikan melalui “kematian tidur”. Sesiapa yang telah cukup waktu ajalnya ditahan oleh Allah, dan tidak dilepaskan kembali kepada jasadnya. Dan sesiapa yang belum tiba waktu ajalnya, dilepaskan kembali kepada jasadnya oleh Allah S.W.T.


Pada hakikatnya, ayat ini boleh memberi dua makna yang berlainan, kerana Allah telah menyebut mengenai dua jenis kematian iaitu kematian tidur dan kematian maut (yang sebenar). Kemudian disebut juga tenteng penahanan roh yang sudah mati, dan pelepasan roh yang lain. Kesimpulannya, bahawa jiwa yang sudah mati itu memang ditahan oleh Allah, sama ada dia mati ketika tidur ataupun dalam keadaan berjaga. Manakala, jiwa yang masih belum mati dilepaskanNya kembali kepada jasadnya. Ayat ini juga membuktikan roh juga boleh ditahan dan dibebaskan bukan hanya orang yang hidup boleh berbuat demikian.


Kesimpulannya, roh merupakan perkara ghaib yang wujud di alam ini yang juga merupakan makhluk ciptaan Allah Taa’la. Namun, ilmu pengetahuan mengenai hakikat roh ini amat terbatas untuk akal seseorang individu. Hanya Allah sahaja yang mengetahui hakikat sebenar kejadian roh ini. Roh orang-orang yang beriman akan beroleh kebahagiaan dan kesejahteraan dengan diluaskan kuburnya ketika di alam Barzakh di samping mendapat ganjaran syurga Allah S.W.T sebagai balasan kepada amal soleh dan ketaatan kepada perintahNya. Keadaan sebaliknya bagi roh yang tidak beriman. Mereka akan menerima siksaan dari alam Barzakh lagi dengan di sempitkan kubur dan mendapat neraka Allah S.W.T. Oleh itu, kita sebagai hamba Allah hendaklah sentiasa mentaati dan mematuhi segala perintahNya dan meninggalkan segala laranganNya.